Jumat, 15 Januari 2016

Takdir Kita


dok. Pribadi
Ah, mengenang mu membuat ingatan ku melayang pada beberapa tahun silam semua begitu indah dikala itu. Meskipun aku tak mengingat lagi secara detail awal kedekatan kita namun setiap waktu yang terlewati sangat bermakna.


                Lucu rasa nya mengingat bagaimana hebohnya aku menjodohkan mu dengan sahabat ku, tapi entah kenapa kamu malah menolak nya. Dan pada akhirnya sahabat ku itu menikah dengan sahabat mu dan sekarang mereka sudah punya anak satu. aku bahagia melihat mereka bahagia.

                Sore itu fik, aku telah membuat keputusan untuk kembali ke kota ku, keluarga ku membutuhkan aku didekat mereka. 
 itu arti nya kamu akan meninggalkan aku sendiri disini rin? Kamu tega melakukan hal itu pada ku? hey siapa yang meninggalkan mu? Kau sahabat ku, kau bisa menelpon, sms, kirim email pada ku atau kau bisa datang ke kota ku kapanpun kau mau fik, jadi kau tak akan kehilangan aku…….

                kamu serius mau pergi rin? iya fik, aku serius. rin, apa yang paling kamu ingin kan dari aku? ya maksud ku apa yang paling kamu ingin  aku lakukan untuk mu? kamu serius fik akan melakukan apa yang aku inginkan? ya rin aku serius jadi katakanlah. Aku minta kamu tak menikah sebelum aku menikah, karena aku akan kehilangan kamu setelah kamu menikah, aku akan kehilangan teman ngobrol, kehilangan teman curhat. aku akan berusaha memenuhi permintaan mu rin. Rin, kapan kamu berangkat? Besok  malam fik, aku boleh mengantar mu kan? Ya tentu bolehlah, kamu kenapa seh  jadi aneh gitu? Sejak kepulangan ku ke kota asal ku telpon lah yang mendekatkan kita, hampir  tiap malam kita saling telpon-telponan membicarakan banyak hal.
      
                2 tahun sejak kita berpisah aku memutuskan untuk memberi kejutan pada mu dengan datang ke kota mu tanpa memberi  tahu, dan ternyata kamu masih sama seperti 2 tahun yang lalu, syukurlah posisi empuk  di sebuah BANK  ternama di kota ini tidak mengkorupsi kepribadian  dan moral mu. Kamu menemani ku menulusuri kembali kota yang telah 2 tahun aku tinggalkan, tak banyak yang berubah kecuali kemacetan yang bertambah parah. Kita membicarakan banyak hal hingga larut tiba. Fik, lusa aku akan kembali pulang  malam itu ku berucap padamu setelah memecahkan keheningan yang tiba – tiba tercipta, lho kenapa cepat banget sih pulangnya?, waktu cuci ku sudah habis, terima kasih untuk  waktu yang telah kamu luangkan untuk ku. Sekarang mau kah kamu mengantarku pulang?

                Dengan berat hati aku pergi meninggalkan kota yang pernah aku tinggali dan meninggalkan mu di sini, ah perpisahan  mengapa terasa selalu menyedihkan? Anganku malambung jauh kemasa –masa kebersamaan kita. Lamunanku pecah oleh deringan Hpku, dan ternayata kamu.
assalamu’alakum, kamu udah berangkat rin?
waalaikumsalam Sudah fik, eh iya maaf jaket mu kebawa lho sama aku gimana nih?
 ya nggak apa – apa rin, ada isinya di saku jaket aku itu?
 ada fik, uang receh 500 rupiah
Dan kamu tertawa mendengarnya. Jaket itu   ada  pada ku karena pada saat aku iseng – iseng ngintarin air mancur dan aku kepleset yang membuat bajuku basah.


                Komunikasi kita tetap berjalan lancar disela- sela kesibukan kita masing – masing. Aku bersyukur ternyata jarak tak membuat persahabatan kita terhenti, maka sudah seharusnya kita berterima kasih pada penemu alat komunikasi. 

hingga pada hari itu tiba semuanya tak lagi sama



Bersambung


#ODOP
HariKelima

1 komentar:

  1. Sbg prolog "memancing" niy...gmana slanjutnya yaa? Tapi stujuh ama mbak Febie...khususnya yg percakapan, mbsk Gadielok...

    BalasHapus

Design by Wulansari