Jumat, 23 November 2012

Bukan Cinta


“Aku ingin kau datang sekarang juga, ke tempat yang biasanya kita bertemu”. Begitu sms yang aku kirim ke dia. Tak lama, henponku berbunyi. Ternyata dia tak mau membalas dengan sms. Tapi langsung menelponku.
Dia : “Sayang, aku tidak bisa datang sekarang, karena kerjaan kantor masih numpuk”.
Aku : “Aku ingin mas datang sekarang”.
Dia : ”Honey, tolong ngertiin aku dong. Bukannya nggak mau, tapi memang banyak kerjaan”.
Aku : “Mas datang sekarang atau tidak selama-lamanya?!!!”
Dan aku lansung menutup telponnya. 
Hp-ku bebunyi lagi. Kali ini bukan telpon, tapi sms. Di sms-nya dia menulis kata, bahwa dia akan datang. 
Aku galau, apakah dia siap mendengarkan kejujuranku? Aku cemas, Apakah dia siap dengan keputusanku? 
Termanggu aku menunggunya. Antara cemas dan takut. Aku mengguatkan hati ku. Aku yang memulai permainan ini dan aku juga yang harus mengakhirinya sebelum dia benar-benar terluka. 
Menunggunya membuat ku gerah. AC di cafe tak mampu menyejukkan kegalauan hatiku. Dan akhirnya dia datang juga. Entah kenapa, ku justru merasa bertambah gerah ketika melihat sosoknya menuju ke arah ku.
“Maaf sayang kalau aku membuat mu menunggu”.
“Nggak apa–apa. Aku yang minta maaf, telah memaksa mu untuk datang”.
“Kamu kangen banget yah? Sampe nggak sabar nunggu aku pulang kantor?”.
Aku memaksa bibir ku untuk tersenyum. Aku harus mengatakannya. Saat ini, Ditempat ini. Dengan pelan aku berucap 
“Aku ingin kita putus”.
“Apa kamu bilang? Coba kamu ulangi lagi”.
“Aku ingin kita putus, Mas”. 
”Ayolah sayang, jangan bercanda”.
”Aku serius, Mas. Aku ingin kita putus, sekarang”
”Tapi kenapa? Apa salah ku?”
”Kamu nggak salah apa-apa, Mas. Aku yang salah”
”Aku nggak ngerti dengan pikiranmu. Kenapa sekarang kamu menginginkan hubungan kita berakhir?”
”Karena aku tak pernah benar-benar mencintaimu Mas baik dulu ataupun sekarang. Untuk itu aku minta maaf”.
”Kamu tak mencintaiku, dek? Haha...kamu pasti bercanda. Aku tak percaya”.
”Aku serius, Mas. Aku tak pernah mencintaimu sepenuhnya”.
 
„Tapi kenapa kau berpura-pura mencintai ku, dek?”
”Mas, lepaskan genggaman tanganmu”.
 
”Kamu jahat, dek. Kenapa kamu tega membohongiku?
Cengkramannya begitu kuat dibahuku, hingga kurasakan sakit yang amat sangat. Dia mulai memakiku dan mengumpatku dengan kata-kata kasar bahkan bahasa hewan. Hingga ku tak kuasa menahan tangan mungilku untuk menamparnya. Iya, Aku menamparnya sekuat tenanga. Lima jari mungil ku membekas dipipinya. 
”Mas, kamu telah mendapatkan apa yang kamu mau. Kuliah mu sudah selesai, Karir kamu sudah bagus. Kamu sudah mapan sekarang. Aku telah menemani mu untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Sekarang ijinkan aku untuk pergi. Tak kan sulit bagi mu untuk mencari penggantiku, Percayalah”.
Aku pergi dan berlalu meninggalkannya, Aku menahan tangis . Aku harus pergi setelah mengucapkan kata terakhir itu.
Tapi dalam hatiku berkata, “Maafkan aku, Mas. Karena sudah menyakitimu. Andai kau tau, sebenarnya aku hanya tak ingin kau terpuruk dalam nestapa kala bahagia tak kau dapat bersamanya.  Aku tak mungkin melukai hati perempuan lain yang lebih dulu mencintaimu meskipun aku tak mengenalnya. Tak mungkin aku melukainya”. . dan yang paling tak bisa ku pungkiri hatiku tak lah bersama mu 
ku percaya jika aku pergi menjauh dari hidup mu kau  akan tetap baik-baik saja. dan yang kuharapkan hanya lah kau bahagia. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design by Wulansari