Jumat, 23 November 2012

Aku, Kamu dan Dia


Aku tak mengerti bagaimana awalnya kita bisa sedekat ini, seperti sekarang ini. 
Apakah aku senang? Tidak.
Aku mulai tak nyaman dengan kedekatan ini. Kedekatan yang aku tak mengerti, deket sebagai apa, dan bagaimana, untuk apa?

Masih tersisa dalam ingatanku saat perkenalan kita dulu. Awal kita menjalin hubungan yang tak lebih adalah sekedar teman. 
Saat itu kau punya perhatian lebih, punya rasa, punya kedekatan lebih. Tapi bukan sama aku. Dia adalah temanku. Ya, kau dekat dengan temanku. Semua perhatianmu adalah untuknya. Namun, kedekatan kalian hanya berujung pada kekecewaan temanku yang dikarenakan kau terlalu cepat bosan padanya. Lelaki macam apa, kamu? Memberi harapan semu. Setelah itu pergi begitu saja. Pergi dengan meninggalkan kata, ”Maaf, kita hanya sebatas teman”. Seharusnya, itu kau katakan diawal. Bukan setelah kau memberi harapan.
Awalnya, aku hanyalah tong sampah bagi mu, yang setiap hari telinga ku selalu siaga mendengar keluh kesah mu, mulai dari kerjaan kantor, keluarga, hingga kedekatanmu dengannya yang ternyata tak membuatmu merasa bahagia (katamu). 
Sebagai teman aku berusaha mengingatkanmu jika kamu salah, membesarkan hatimu dikala lara, menghiburmu dikala berduka, ikut tersenyum dikala kau bahagia, memberi semagat dikala kau lemah. Itu semua bukan karena aku menginginkamu. Aku menginginkan kau memperlakukan temanku dengan baik. Membuka matamu, Menyadarkanmu, Tak lebih dari itu. 
Dan sebagai teman, bukankah apa yang ku lakukan itu hanyalah hal yang biasa? Hal biasa yang dilakukan untuk kebaikan seorang teman?
Tapi...justru, kau mulai rajin menelponku seperti jadwal minum obat. Bahkan mengalahkan jadwal minum obat. 
Awalnya, aku asyik-asyik aja. Biasa biasa aja. ”Mungkin kamu lagi butuh support”. 
Tapi lama-lama aku merasa ada yang berbeda dengan mu. Kau mulai rajin mengungkap kesalahan dia, kau mulai nggak perhatian terhadapnya. Kau juga mulai bosan padanya. Hingga hanya kekurangannya yang kau lihat dari dirinya. Apa maksud deri semua itu?
Setelah itu, dengan ringannya kau mengatakan ”suka pada ku”, ”Cinta padaku”. Kau mulai memujiku selangit. Seakan akan, ada yang ada padaku, adalah kelebihan buatmu.
Aku hanya tersenyum. Terkadang diam. Bahkan bingung. 
Aku mencoba mengingatkanmu lagi, bahwa ada dia disana yang menunggumu. Yang pernah kau agung agungkan. Tapi apa? Kau marah. Seakan akan kau lah yang paling benar. Seakan akan tak pernah terjadi apa apa dengannya. Seakan akan dia hanyalah boneka yang bisa kau permainkan sesuka hati. Lusuh, jelek, tinggal buang. Bosen, tinggal nyari yang baru.
Parahnya lagi, kenapa harus sama aku??? Aku adalah temannya. Kau menyakitinya, sekaligus menyakitiku. Kamu pikir aku senang mendengar kata cintamu? Kamu salah. Aku yang kini mengangaapmu sampah. Maaf. 
Aku harus pergi. Melupakan segala tentangmu. Aku menganggapmu tak pernah ada dalam kehidupanku. Aku akan membuang segala hal yang berhubungan denganmu. Aku tak ingin berbahagia diatas penderitaan orang lain. Lebih lebih pada temanku sendiri. Itu saja. Mengertilah. Temukan jalanmu sendiri. Dan sadarlah, wanita punya perasaan. Perasaan yang justru lebih sensitif dari perasaanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design by Wulansari